Saturday, August 18, 2018
Home > Editor Pick > EDM adalah Hidup Dipha Barus, Bukan Alkohol dan Obat-obatan Keras

EDM adalah Hidup Dipha Barus, Bukan Alkohol dan Obat-obatan Keras

EDM adalah Hidup Dipha Barus, Bukan Alkohol dan Obat-obatan Keras

Saat ini karir Dipha Barus tengah meroket. Nyari enggak ada yang melewatkan setiap pemberitaan tentang Dipha kalau berkaitan dengan dunia EDM. EDM itu apa? Meragukan kalau kamu belum tahu. EDM itu kependekan dari Electronic Dance Music. Kalau kamu hobi mantengin lagu-lagu K-Pop pasti langsung angguk-angguk.

Di situlah dunia dan kehidupan yang membentuk diri seorang Dipha. Gaya musik Dipha Barus yang kental dengan aroma ajep-ajep rupanya bikin banyak orang bertanya-tanya. “Apakah Dipha itu juga seorang pecandu alkohol? Apakah Dipha hobi mengkonsumsi obat-obatan keras?”

Sayang sekali. Emang, dunia DJ pada waktu-waktu sebelumnya dikotori oleh statement yang begituan. Enggak jarang bagi seorang pegiat DJ yang alih profesi semata-mata biar enggak dipandang miring. Tapi kenyataan itu enggak bikin Dipha lantas mengikuti pemikiran kebanyakan orang. Bahkan dia punya cara sendiri dalam menjalani karir.

Selama ini, Dipha enggak suka tuh yang namanya alkohol. Apalagi obat-obatan keras. Justru dia sering mengimbau buat para generasi mudah untuk mengekspresikan diri lewat seni. Seni bisa jadi penyalur ekspresi yang bagus. Lagi pula seniman itu keren. Dia bikin suasana yang itu-itu aja jadi tampak berwarna.

Dipha mengaku kalau selama ini dia enggak ada waktu buat nongkrong dan minum alkohol. Kalaupun emang nongkrong, pasti gara-gara urusan dengan klien atau beraksi di atas panggung. Dia sudah buktiin kalau DJ itu enggak ada hubungannya dengan rokok, alkohol, dan narkoba.

Dia menjadi seorang pemain DJ ya karena itu sudah jadi hobinya. Meskipun enggak disangkali kalau dia sendiri waktu nge-DJ masih sering lihat orang yang mabuk. Enggak cuma satu-dua orang. Sepanjang perjalanannya, emang masih banyak yang nenggak alkohol sembari nikmatin EDM.

Dipha punya keyakinan diri yang patut dicontoh oleh generasi muda. Dia emang suka dengan kebebasan. Tapi dia enggak pernah berniat merugikan orang lain. Apa yang dilakuin semata-mata karena hobinya. Sementara hobi di bidang musik, tugasnya cuma bikin orang lain terhibur. Itu aja. Enggak ada pretensi apa-apa.

Alasan dia memilih gaya musik EDM ya ngerasa cocok aja. Mungkin terdengar sepele. Tapi berkat keseriusannya jalanin hobi nge-DJ itu bikin dia jadi ikon musikus EDM yang begitu disegani. Sampai-sampai musisi papan atas enggak segan-segan menggandengnya buat kolaborasi. Seperti BCL, Andien, Titi DJ, dan lainnya.

Kemampuannya yang dia atas rata-rata itu enggak dia dapat secara instan. Semua butuh proses dan perjalanan yang cukup panjang. Keintimanya dengan alat-alat musik sudah melekat sejak dia masih sekolah SD. Perkenalannya dengan DJ itu ketika dia menemani ayahnya buat berobat ke Singapura.

Di negara Singapura itulah dia ketemu dengan seseorang yang banyak ngajarin tentang musik drum dan bass. Kalau dikombinasikan bisa jadi dasar dari musik DJ. Dari perkenalannya itulah yang membawa dia tertarik membeli Aphew Twin serta musik-musik elektronik lainnya.

Salah satu lagu yang paling populer karyanya itu berjudul “No One Can Stop Us”. Setiap kali dia bawain lagu itu ke atas panggung pasti disambut teriakan dari para audiensi. Enggak heran sih. Musiknya emang asik banget. Ketika ada yang nanya, dia mau masuk genre apa di EDM. Dia lebih memilih main musik dengan cara dia sendiri.

Keren, ya? Tahu enggak. Dipha Barus itu rupanya masih kerabatnya Bams (eks Samsons), lho! Darah musik emang mengalir di keluarganya. Tapi kalau cuma itu aja enggak cukup. Dia berkeyakinan penuh kalau usaha yang keras akan membawa hasil yang lebih baik. Dia enggak mau ngerusak mimpinya dengan alkohol.